Tag Archives: caleg

Gagal Jadi Dewan, Rp. 400 Juta Melayang

Selama ini Saya hanya mendengar dari Televisi atau membaca koran tentang kisah ‘pilu’ Caleg yang gagal memperoleh tiket ke kursi Dewan (DPR atau DPRD).

Namun kali ini, saya bertemu langsung dengan caleg yg mengaku gagal dan berusaha menenangkan dirinya. Semua sudah dipersiapkan ; baik usaha, pengikut yg kelihatan setia, modal pengalaman 35 tahun di pemerintahan, dan terakhir dana Rp. 400 juta yg diambil dari kantong sendiri.

Gaya bicara saya yg tadinya sekedar basa-basi di Warung Lontong Sayur, eh malah jadi bersemangat karena bertemu langsung dengan salah satu pelaku sejarah ‘per-caleg-an’.

Ceritanya beberapa hari yg lalu saya pulang dari lari pagi di Lapangan Sempur, Bogor. Pulangnya udah saya niatkan untuk mampir ke Bank BNI di Jalan Juanda. Biasa, saya ada keperluan membayar kartu kredit yg saya pakai untuk pasang iklan google adwords dan autoresponder.

Setelah beres urusan kartu kredit, saya cari sarapan pagi di depan kantor BNI tsb. Kebetulan ada Warung Lontong Sayur di depan. Saya memang langganan Lontong Sayur kalo ke BNI karena memang merupakan salah satu makanan favorit. Wah, jadi ketahuan deh ‘makanan favorit ‘ ku. He..he..he..

“Bu, Lontong Sayur satu, seperti biasa banyakin kuahnya”, Aku mulai memesan sambil mencari tempat duduk. “Siap Pak!”, kata Si ibu lontong.

Sambil duduk, aku melihat bapak di sebelahku sudah beres makan Lontongnya. Beliau membawa Handuk kecil untuk me-lap muka dan ‘perutnya’. Nah, ketika beliau me-lap perut sambil memasukkan handuk ke dalam baju, Aku jadi penasaran. Dalam hati, ngapain sich bapak ini!

He..he..he..Sambil penasaran aku berusaha menegur ; “Keringatan Pak, habis jalan pagi ya? Aku berusaha ramah sambil menebak-nebak kegiatan bapak itu sebelumnya.

“Iya nih pak, Habis keliling Kebun Raya (Kebun Raya Bogor maksudnya, red.). Lumayan badan jadi terasa ringan karena berkeringat. Kalo dah bisa ngeluarin keringat, nikmat betul rasanya hidup ini’, sang Bapak berusaha menjawab pertanyaan saya dengan ramah.

“Betul Pak, Saya juga habis olah raga lari pagi di Lapangan Sempur (Lap. Sempur letaknya bersebelahan dengan Kebun Raya Bogor, red.). Olah raga murah meriah tapi menyehatkan’, imbuhku.

“Ya, betul tuh Pak. Saya kalo gak sibuk selalu menyempatkan diri untuk berolah raga. Tapi 7 bulan belakangan ini saya gak sempat berolah raga karena sibuk ngurusin partai”.

“Oh ya, emang bapak pengurus partai ya?, pasti sibuk sekali kemarin”, Aku mencoba memberi simpati.

“Bukan hanya pengurus, Tapi juga maju jadi caleg. Tiap hari ada saja orang yg datang ke rumah memberikan dukungan. Saya sudah menyiapkan 20 ribu spanduk dg harga 1 spanduk Rp. 50 rb, bekal kerja di pemerintahan sudah ada, pendidikan S2, dan kayaknya pendukung saya sudah oke. Namun kayaknya Allah belum mengijinkan sehingga saya gagal menjadi caleg”, begitu cerita singkat sang Bapak menyampaikan uneg-unegnya.

Sampai di situ aku belum terlalu serius menanggapai cerita Si Bapak tadi. Aku mendadak serius mendengarkan setelah Bapak itu membuka ‘dapurnya’ dengan mengatakan modalnya sekitar Rp. 400 juta sudah melayang.

“Wah, Bapak sampai mengeluarkan Rp. 400 juta untuk jadi caleg?” Aku bertanya mulai serius karena selama ini baru mendengar di media massa tentang kisah caleg yg amblas modalnya utk merebut kursi dewan.

“Yah, mau bagaimana lagi? kita tidak disediakan dana dari partai. Kalo mau maju, kita harus siap dana sendiri. Beda dengan partai lain (beliau menyebut salah satu partai baru yg terkenal), mereka sudah diberikan jatah dana dari partai jika maju jadi caleg. Lah, kalo saya? Harus merogoh kantong sendiri habis-habisan. Tapi mau dibilang apa lagi? meski semua tenaga dan dana sudah saya keluarkan, meski semua perhitungan dikalkulasi ulang, tapi tetap saja namanya Allah belum mengijinkan. Yah, lebih baik saya menerima aja keadaan ini. Dari pada stress, saya dari awal sudah menyatakan siap menang dan siap kalah!”

Saya semakin serius menanggapi cerita ‘pilu’ sang Bapak. Sempat juga saya bercanda karena setahu saya banyak caleg yang masuk RS. Jiwa. Di Bogor saja ada RS. Jiwa Marzuki Mahdi yang telah menampung beberapa pasien baru ‘hasil’ kegagalan para caleg. Dan bapak didepan saya tadi mersa bersyukur karena masih diberikan kesehatan dan kekuatan oleh Allah untuk menerima keadaan ini.

Obrolan kami di warung Lantung Sayur terus berlanjut sampai akhirnya ada teman sang Bapak kebetulan lewat dan mengajak jalan ke suatu tempat. Sang Bapak sempat bersalaman dengan saya sebelum akhirnya pergi bersama dengan temannya tadi.

Setelah sang bapak pergi, obrolan kecil saya berlanjut dengan Ibu Lontong Sayur yg mendengar percakapan kami tadi. kata Si Ibu, bapak tersebut termasuk kuat. Maklum orang Medan katanya. Umur Bapak tersebut sudah 56 tahun dan kayaknya sekarang sudah pensiun dari kantor pemerintah (Si Ibu menyebutkan satu kantor pemerintahan yg mengurus masalah keuangan). Ternyata Bapak tsb sering makan di warung Lontong Sayur sehingga Si Ibu sudah cukup mengenalnya.

==================================

Dalam perjalanan pulang, saya terus memikirkan pengalaman baru tadi bertemu dengan orang ‘pelaku’ drama per-caleg-an. Modal Rp. 400 juta habis?? Apa ya yang dicari dengan mengeluarkan modal sebesar itu untuk jadi caleg?

Dalam bayangan saya, kalo uang tersebut dipakai untuk modal bisnis tentu akan lebih bermanfaat. Dari pada dipakai untuk modal merebut jabatan yg peluang jadinya juga susah ditebak.

Apalagi kalo dipakai untuk Modal Bisnis Online. Jangankan Rp 400 juta, jika diambil 1% saja (Rp. 4 juta), maka sudah lebih dari cukup untuk memulai dan menjalankan Bisnis Online dengan tenang. Kalo dijalankan dengan serius, gak nyampe satu tahun, modal InsyaAllah kembali dan tinggal menikmati keuntungan selanjutnya saja..

Tapi itu hanya khayalan saya aja yg sudah mengetahui betapa prospeknya Bisnis online untuk masa depan. Tidak semua orang tahu dan mau mengeluarkan modal meski hanya ratusan ribu untuk Bisnis yang satu ini.

Kecuali orang yang sudah terbuka pikirannya dan mau berjuang untuk pekerjaan yang lebih baik dan menentramkan.

Bagaimana pendapat Anda???

Sukses untuk Kita yg mau Berubah,

Davit

Bagaimana Saya dapat Rp. 20 juta dari produk orang lain?

Pencarian dari Google :

Pemilu Ngantri dan Harapanku

Berbeda dengan pemilu 5 thn sebelumnya, nyontreng pemilu kali ini lumayan ngantri. Sekitar 1 jam saya harus nunggu dipanggil antrian. Saya dan istri sempat keluar area TPS sebentar untuk menghilangkan kejenuhan.

Kebetulan TPS di RW kami (Batu Tulis-Bogor) tidak jauh dari rumah. Tempat yg dipakai adalah SD Batutulis yg tepat berada di depan Istana Batu Tulis.

Karana lokasinya sekitar 100 m dari rumah, sayapun mengajak kedua anak kami menuju TPS. Kebetulan di sana sudah banyak saudara dan tetangga yg sudah hadir. Jadi kami tidak terlalu repot menjaga 2 anak kami karena banyak yg dikenal.

Setelah sekitar hampir 1 jam, barulah giliran nama saya dan istri dipanggil Panitia TPS. Awalnya saya kira gampang u mencontreng. Eh, gak taunya butuh waktu juga melihat 4 lembar kertas suara satu per satu. Soalnya banyak nama caleg yg blm terlalu dikenal.

Saya berpikir, pantes aja selama ini banyak caleg yg mengiklankan dirinya di media massa dan media elektronik. Mungkin mereka mau memperkenalkan diri kepada kita seraya mengatakan ; “Inilah Saya. Saya punya program bla bla bla..Jika terpilih, saya akan melakukan bla bla bla…”

Namun saya berpikir lagi ; bagaimana dengan modal yg dikeluarkan utk iklan diri tsb? apakah dari saku sendiri atau dari sumbangan partai??

Lalu bagaimana jika mereka tidak terpilih? apakah sudah siap rugi…!

Lalu jika terpilih nanti, apakah berlaku hukum bisnis bagi mereka? karena mereka sudah mengeluarkan modal u kampanye, maka hitungan-hitungan balik modal harus didahulukan ? atau bahkan mereka memperhitungkan keuntungan setelah balik modal???

Kalo itu yg terjadi, berarti omongan miring orang awam benar bahwa wakil rakyat kita pasti bukan mikiran rakyatnya dulu. Yang dipikirkan dulu adalah bagaimana cara berterima kasih kepada partainya, lalu mengumpulkan modal-modal yg udah keluar, dan membantu sanak saudara dengan statusnya saat ini.

Tapi, semoga saja caleg kita kali ini bukan tipe orang demikian. Saya berharap caleg-caleg kita yg terpilih kali ini adalah orang-orang yg masih “tajam hati nuraninya”. Orang-orang yg “masih punya rasa malu” jika mendahulukan kepentingan pribadi dibanding kepentingan rakyatnya.

Saya berdoa semoga masih ada ‘orang benar’ di negeri ini yg menjadi wakil rakyat utk menegakkan kebenaran. Orang yg tidak tergoda korupsi, orang yg tidak menunjukkan hidup glamour di tengah kemiskinan rakyatnya.

Semoga saja harapan saya menjadi kenyataan…Kami rindu wakil rakyat yang benar-benar mengayomi dan memihak rakyatnya. Kabulkanlah ya Allah..!!!

Pencarian dari Google :