Tag Archives: bisnis offline

Keluhan Rakyat Kecil ; “Aku Bingung Pak!”

Sabtu Pagi, tanggal 16 Mei 2009, Aku pergi berolah raga di Lapangan Sempur, Bogor.

Aku punya beberapa hobby olah raga : Jogging, Fitness, dan Renang.

Kebetulan hari itu aku meyalurkan hobby Jogging (lari pagi) keliling lapangan sempur. Sekitar 30 menit lari pagi memang cukup membuat badan berkeringat. Apalagi pagi itu matahari bersinar sangat cerah.

Tak heran ada banyak pengunjung yg melakukan jogging juga, mulai dari anak-anak muda sampai orang tua berusia lanjut.

Selesai berolah raga Aku mencari tempat istirahat sambil sarapan pagi. Pilhanku jatuh ke warung mie ayam di bawah pohon yg teduh.

Sebenarnya warung yg kumaksud hanyalah sebuah gerobak dorang yg mangkal di lapangan sempur. Ada banyak pedagang kecil sekelas pedagang gerobak tadi yg mangkal juga di lapangan sempur. Mereka mengandalkan pembeli utama dari para pengunjung lapangan sempur.

Sambil menikmati mie ayam yg yg cukup lezat dan minuman teh botol dingin, Aku mendengar perbincangan antar pedagang di sebelah tempat dudukku yg jaraknya paling 5 meter…

“Aku Bingung Pak!. Bagaimana mau mempertahankan warung yang sudah ku-modali etalase itu. Pengunjung sih rame yg lalu lalang, tapi pembelinya gak ada…”

Keluhan yg kudengar itu berasal dari seorang ibu yg sedang menggendong anak kecil. Perbincangan terjadi antara sang Ibu, Bapak pedagang Soto daging, dan Bapak pedagang Ketoprak.

Aku tidak tahu sang Ibu jualan apa di lapangan sempur. Yang kutangkap Ibu itu mengeluhkan warungnya di Jalan Malabar yg katanya dekat dengan lingkungan Mahasiswa.

“Karena bingung gak tahu harus berbuat apa, warung itu mau kututup dan etalasenya mau kujual aja. Repot pak kalo sepi seharian nunggu warung. Apalagi saya kan punya anak kecil..!”

Duh, mirisnya hatiku mendengar keluhan ibu tsb. Aku tahu, modal sebuah etalase buat pajangan berkisar Rp 300.000,- s/d Rp. 500.000,-. Jumlah yg tidak kecil bagi rakyat kecil.

Belum lagi membayangkan letihnya berjualan sambil menjaga anak kecil, dan pikiran yg kacau karena tidak memperoleh penghasilan seperti yg diharapkan.

Aku dan istri pernah menunggu toko sepatu kami beberapa tahun silam. Kalo lagi sepi seharian memang butek juga pikiran.

Ibu tersebut juga sempat mengeluhkan kerugian yg dialami sebagai supir angkot (mungkin suami beliau seorang supir angkot). Muter-muter seharian belum tentu bawa uang karena sepinya penumpang. Tiap hari kadang nombok setoran karena jumlah yg diperoleh gak sampai Rp. 200.000,- sehari.

“Ya, benar itu bu. Saudara saya yg supir angkot paling bagus dapat Rp. 200.000,- sehari”, Sang pedagang soto daging ikut membenarkan perkataan sang Ibu.

“Sedangkan setoran ke bos lebih dari Rp. 100.000,- per hari, belum lagi bensin seharian yg harus kita modali. Jadi, mestinya penghasilan harus di atas Rp. 200.000,- sehari agar untung..!”

Ditengah keluhan tsb, Bahkan sempat terucap dari mereka : “mungkin lebih baik kerja di luar negeri aja kali ya…”

Ya, Allah. Aku pikir ini bukan perbincangan biasa. Ini keluhan yg dirasakan rakyat kecil yg telah berusaha maksimal. Namun akhirnya kebingungan yg mereka peroleh.

Ini keluhan rakyat yg bingung hidup di negaranya sendiri. Ketidakberdayaan mereka umumnya disebabkan berbagai faktor. Bisa karena modal kerja yang minim, bisa karena keahlian yg terbatas, bisa karena tidak ngerti bagaimana caranya ‘menarik’ pelanggan, bisa juga karena faktor lingkungan yg tidak mendukung.

Faktor lingkungan yg tidak mendukung mungkin karena daya beli masyarakat yg menurun, ada kemudahan orang memperoleh kredit motor shg angkutan umum tidak diperlukan lagi, dan semakin banyaknya persaingan orang yg berjualan akibat PHK.

Sebenarnya semakin banyak orang yang berbisnis itu akan semakin baik buat negara ini. Namun kalo semua orang menekuni bisnis yg sudah jenuh pasarnya, maka bisnisnya akan terasa rugi. Mungkin potret usaha sang Ibu tadi sama dengan kebanyakan pebisnis kecil lainnya.

Jika kita memasuki pasar yg sudah jenuh, maka kecil kemungkinan untuk menang jika kita mulai berbisnis sebagai pemula. Pasar jenuh karena sudah banyak pemain dalam bidang yg sama, sementara para pembelinya lebih kecil dari pada penjualnya. Akibatnya semua pedagang berebut porsi kue yg kecil dengan persaingan yg sangat berat.

Para pedagang kecil mungkin tidak terpikir untuk menggarap ‘ceruk pasar’ yg justru banyak calon pembelinya. Ceruk pasar itu ibarat bidang usaha yg memiliki ‘peluang emas’ karena belum banyak digarap orang. Sementara para calon pembelinya berlimpah. Kalo di bisnis online kita menyebutnya ‘niche market’.

Contohnya, jika anda menjual usaha counter HP doank, maka tentu akan terasa berat jika bersaing dengan pemain lama yg jumlahnya sudah ribuan. namun coba anda berpikir untuk menjual HP bersama aksesorisnya. mungkin pemainnya belum banyak, sementara pencarinya banyak.

Ada kisah sukses pebisnis Bogor yg memfokuskan usahanya sebagai pusat pelayan ‘blackberry’. Semacam pelayan akses internet melalui handphone. Sebut saja namanya Baba Ahong.

Baba Ahong ini tadinya sudah mengalami kebangkrutan dengan usaha lamanya. Pernah membuka toko komputer, handphone, dan studio foto. Modal ratusan juta hampir habis dengan menyisakan hutang ke supplier.

Namun keajaiban terjadi setelah Baba Ahong melirik usaha Pelayanan “Blackberry” bagi pengguna Handphone. Semacam pelayanan akses internet dari handphone.

Ini jelas ceruk pasar yg bagus karena pasti belum banyak pesaing. Sementara jumlah pengguna internet semakin meningkat setiap harinya.

Bahkan sekarang usaha Baba Ahong semakin besar karena pelangannya juga datang dari Jakarta dan Bandung. Beliau memanfaatkan teknologi online untuk menjaring pelanggan. Baba Ahong memanfaatkan fasilitas mailing list yahoo gratis untuk membuka pendaftaran bagi pelanggan dari luar kota.

————————————————

Kisah di atas adalah perbandingan kontras antara pebisnis yg berhasil dan pebisnis yang merasa gagal. Memang rakyat kecil tidak semuanya akan paham kalo dikenalkan bisnis internet.

Yang mau ditarik benang merah adalah usaha apapun namanya perlu ‘seni perjuangan’. Kemauan untuk berpikir kreatif, pantang menyerah, dan mencoba mencari apa yg dibutuhkan pasar adalah cara yg terbaik untuk berhasil. Berdagang bukan hanya sekedar memajang barang dagangan lalu menunggu pembeli datang secara ajaib (berlaku juga utk website/blog kita).

Berdagang atau berbisnis menuntut intuisi kita membaca keadaan. Kalo belum berhasil bukan berati kita gagal. Kita hanya perlu mencari dan membuat ‘keadaan berhasil’ agar memihak kpd kita. Meminjam istilah Mas Erbe Sentanu ; Kegagalan selalu bisa di-stel ulang agar keberhasilan bisa memihak ke kita. Ia ibarat memutar tombol tuning radio dan mencari frekuensi yg tepat bagi keberhasilan kita.

————————————————

Filosofi ‘niche market’ dalam dunia online setidaknya bisa diterapkan bagi calon pebisnis, baik pebisnis offline, maupun pebisnis online. Niche market ini yg akan memandu kita mengetahui apa yg dibutuhkan pasar dan seberapa besar peluang keberhasilan kita.

Dari pengalaman Saya menekuni bisnis online dan offline, ternyata ceruk pasar/niche market yg potensial lebih banyak ada di Bisnis Online. Disamping Modalnya relatif kecil, keuntungannya juga jauh lebih besar. Lalu kalo mau ditekuni serius, waktu yg diperlukan untuk berhasil tidak akan terlalu lama dibanding bisnis offline.

Have a nice business…!

Jadi Pengusaha Online Modal Kecil

Pencarian dari Google :