Tag Archives: kata-kata mutiara

Waspada Terhadap Kesenangan, Syukurilah Kesulitan

Kata-Kata Mutiara Hari ini

“Waspadalah terhadap kesenangan, syukurilah kesulitan”

Wahai sobat pembaca DP.net yg dirahmati Tuhan. Tanpa kita sadari, terkadang hidup yg penuh kesenangan bisa membuat diri kita menempuh jalan-jalan keburukan, jalan-jalan dosa. Rezeki yg mudah mengalir, keuangan yg serba cukup, keluarga yg serba sehat,  dan kesenangan-kesenangan lainnya justru bisa membuat kita jauh dari Tuhan. Syaitan begitu pintar menggoda pikiran kita seolah hidup ini untuk selamanya, seolah bahagia itu ukurannya materi dan fisik saja.

Padahal kalau kita tidak waspada, dibalik kesenangan itu kita diajak pada jalan yg semakin jauh dari Tuhan. Materi dan kebendaan yg diburu bisa membuat kita memperlambat waktu shalat, bekerja keras siang sampai malam sehingga meninggalkan shalat tahajud dan shalat subuh berjamaah, para wanita memakai wewangian dan membuka auratnya hanya untuk dinilai ‘cantik semu’ di mata manusia, para suami tidak sempat lagi mempelajari ilmu agama karena hanya mengejar ilmu dunia yg katanya bisa membuat ‘kaya’, dsb. Ternyata kalau mau disadari, semua kesenangan dunia yg hendak dicapai bisa menjauhkan diri kita dari Tuhan. Inilah yg harus kita waspadai…!

Pencarian dari Google :

Mudah Merencanakan, Sulit Mempertahankan!

Hello Pembaca setia blog DavitPutra.net,

Hari ini Saya ingin ungkapkan satu kalimat mutiara yg sebenarnya sering kita ‘aplikasikan’ :

Mudah merencakan sesuatu, tapi sulit mempertahankannya hingga ke akhir…!

Sebagian besar kita mungkin sering meng’aplikasikan’  kalimat di atas dalam kehidupan sehari-hari. Meski maknanya negatif, tidak baik, bahkan bisa merugikan diri sendiri, namun toh terkadang kita tidak kuasa melawannya.

Kita sangat sering mengungkapkan cita-cita dan merencanakan keberhasilan masa depan, namun lebih sering lagi kita tidak mempertahankan cita-cita tsb hingga ke garis finish (akhir).

Dalam aspek agama, kita tahu shalat jamaah itu dibalas dengan 27 kali lipat pahala, tapi kita lebih suka shalat sendiri-sendiri, bahkan di akhir waktu. Kita tahu bahwa menundukkan pandangan itu jauh lebih baik, tapi kita malah lebih sering mengumbar pandangan di luar aturan agama. Kita tahu bahwa menjaga aurat itu lebih mulia, tapi kita lebih sering mengumbar aurat tanpa takut akan hukuman-NYA. Kita ingin masuk surga, tapi kita tidak mau bersabar menempuh jalan ke sana…! Bukankah itu semua hanya sekedar keinginan (rencana) tanpa mau berjuang mempertahankanya (istiqomah)?

Dalam aspek bisnis, kita punya cita-cita yg tinggi ingin berhasil seperti orang lain. Bahkan deretan cita-cita mulia sudah kita tulis : ingin mengangkat kehidupan keluarga secara materi, membantu saudara yg membutuhkan, membantu orang yg kesulitan, bersedekah sebanyak mungkin, naik hajikan orang tua, menyekolahkan adik, mendirikan yayasan sosial, mendirikan pesantren wirausaha, membuka lapangan kerja bagi orang lain, dan sederet cita-cita mulia lainnya. Namun sayangnya sederet cita-cita mulia di atas hanya sekedar rencana.

Giliran aplikasi di lapangan, kita sangat sulit mempertahankannya karena terbentur masalah di tengah jalan. Sering pikiran kita buntu, buyar, bahkan sampai tidak tahu harus melakukan apa lagi dalam menghadapi kesulitan. Dalam keadaan bingung, terkadang kita sering mundur di tengah jalan, bahkan menyalahkan lingkungan atau nasib. Jika kita mau introspeksi secara spiritual, sebenarnya itu adalah ‘jalan Tuhan’ untuk memuliakan mental dan hati kita.  kita lebih sering berencana mulia, tapi sulit menghadapi ujian Tuhan yg sebenarnya memuliakan kita.

Dalam aspek keluarga, kita sangat sering mendengar ucapan  “semoga menjadi keluarga sakinah-mawaddah-warahmah”.  Yaitu keluarga yg diliputi dengan rasa tentram, bahagia, dan mendapat rahmah/cinta Allah SWT. Semua itu bisa dicapai jika kita mempertahankan keimanan kpdNYA, kasih sayang, dan saling menjalankan kewajiban masing-masing  dengan baik.

Namun dalam prakteknya, sangat sulit untuk mempertahankan akhlak mulia tsb karena godaan dunia begitu kuat….! Kita sering tidak merasa bahwa keluarga adalah benteng pertama sebelum anak dan istri kita bergaul dengan dunia luar. Sebagai kepala keluarga, karena segudang kesibukan kita terkadang tidak sadar bahwa punya kewajiban mengayomi keluarga dan terus membimbing ke jalan yg benar.

Itulah sebagian aplikasi sifat buruk kita :Mudah merencakan sesuatu, tapi sulit mempertahankannya hingga ke akhir…!”

Semoga kita bisa terhindar dari sifat buruk tersebut, dan mengejar sifat terbaik dari tujuan mulia yg kita cita-citakan :

“Mudah merencanakan tujuan mulia, dan kuat mempertahankannya hingga ke akhir…!”

Sukses untuk kita yg Selalu Memperbaiki diri,

Davit
=====

yg masih belajar tentang kehidupan.

WebsiteWordpressPemula.com (WWP)